Senin, 07 Juli 2008

Makroman Percontohan Energi Alternatif (Samarinda)


Mungkin belum banyak orang mengetahui bahwa hewan Sapi sebagai salah satu produk peternakan, ternyata dapat pula memberi manfaat lain selain daging dan kulitnya yang banyak dikonsumsi masyarakat, yaitu limbah kotorannya bisa diolah menjadi energi alternatif yang dapat berfungsi sebagai bio gas dan sumber penerangan pengganti tenaga listrik untuk kebutuhan rumah tangga. Di Samarinda pengolahan sumber energi alternatif ini sekarang tengah dijajaki pengembangannya melalui salah satu petani ternak yang berlokasi di Kelurahan Makroman Kecamatan Samarinda Ilir yang menjadi percontohan. Menurut Ir Suhut Simamora MS salah satu anggota Tim dari Institut Pertanian Bogor, selaku penggagas kegiatan, selain memberi manfaat energi alternatif pengolahan limbah peternakan ini dapat pula menghasilkan pupuk tanaman. “Baik berupa pupuk padat maupun pupuk cair, yang tentunya akan sangat berguna bagi petani itu sendiri tanpa harus mengeluarkan biaya lebih banyak bila dibanding kalau harus membeli produk tersebut di pasaran,” ungkapnya disela kegiatan kunjungan lokasi Jumat (15/2). Belum lagi kondisi pendistribusian pupuk yang saat ini subsisidinya dibatasi, dengan cara ini tentu akan dapat memenuhi kebutuhan para petani setiap saat. Ditambahkan Suhut selain memberi manfaat ganda, sistem pengolahan kotoran ternak ini secara tidak langsung akan memberi dampak pula pada kebersihan lingkungan kawasan peternakan karena tidak sampai menimbulkan limbah. Hal senada disampaikan Kasi Produksi Kantor Peternakan Kota Samarinda Ir Yuliana, menurutnya bila cara ini dapat terus dikembangkan tidak mustahil akan dapat mewujudkan kondisi petani yang mandiri. “Karena untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan kehidupan keluarga masyarakat petani ini tidak perlu lagi harus selalu menunggu perhatian pemerintah, apakah untuk kebutuhan listrik, gas maupun pupuk yang sekarang memang sulit didapat dan kalaupun ada harganya pun dari waktu ke waktu semakin meninggi,” imbuhnya. Apalagi bila dilihat dari perkembangan pertumbuhan kelompok tani binaan yang ada, kondisi ini menurut Yuli tentu bisa berpotensi. “Minimal untuk memenuhi kebutuhan pribadi apalagi bila dapat dimanfaatkan untuk orang lain,” pungkasnya.

Tidak ada komentar: